Liburan Singkat di Palabuhan Ratu

Liburan Singkat di Palabuhan Ratu

Ini kali kedua kami ke Pelabuhan Ratu atau kata orang Sunda mah, Palabuhan Ratu. Kali pertama hanya berselang beberapa hari sebelumnya. Maksud kedatangan ke daerah di Kabupaten Sukabumi ini karena urusan pekerjaan suami di PLTU Citarik. Karena dia berangkat seorang diri saja, jadilah saya dan anak-anak nebeng ikut. Habisnya kami gak ada planning jalan-jalan untuk liburan Natal. Tadinya sih ada planning mau ke Jogja tapi karena sesuatu dan lain hal harus batal. *krai sekebon*

Masih subuh banget kami sudah jalan. Karena saya tipe perfeksionis, apa-apa sudah saya siapin sejak semalam. Saya bahkan masakin sayur dan ikan buat bekal di jalan. Soalnya pernah punya pengalaman gak enak mampir makan di jalan saat bepergian. Makanya mending bawa bekal sendiri. Lebih enak dan higienis.

Kalo kata Gmaps sih estimasi waktu dari rumah ke Pelabuhan Ratu itu 199 menit. Atau sekitar 2,5 jam. Iye, itu mah kata Gmaps aja. Realitanya 4 jam lebih baru nyampe padahal jalanan gak macet. Di kali pertama malah hampir 7 jam. Bebas, tsay! *tebalikin Gmaps*

Di kali pertama saya dan anak-anak disuruh menunggu di mobil sama suami karena janjinya cepat selesai. Aje gile, selesainya baru 6 jam kemudian. Mati kutu dan mati gaya banget nunggu berjam-jam di mobil. Tiduran gak nyaman dan susah pula buat buang air kecil karena jarak ke toilet cukup jauh. Suami minta dipites banget ini. Makanya untuk kali kedua, demi kenyamanan jiwa dan raga kami, khususnya saya. Suami membawa kami ke hotel.

Selama perjalanan saya nyari beberapa referensi hotel yang terjangkau dan dekat laut. Karena pergi ke daerah pantai dan nggak ngeliat laut itu rugi banget namanya. Tapi berhubung cuaca saat itu sedang hujan deras dan sebentar lagi suami harus pergi ke lokasi pekerjaan, kami hanya mampir ke satu hotel saja di dekat pelelangan ikan.

Saya sebenarnya sedikit kecewa dengan pilihan hotel pertama itu, karena pemandangannya hanya pelabuhan saja dengan deretan kapal nelayan yang tertambat. Menarik sih, tapi saya lebih suka pemandangan laut lepas yang sunyi. *banyak mau* 

Ada sih hotel lainnya yang menawarkan pemandangan dan fasilitas yang saya idamkan tersebut. Harga perkamarnya juga hampir sama dengan hotel yang kami tempati, sayang gak sempat ke sana. Mungkin jika ada kali berikut saya akan memilih ke hotel itu saja.

Hotel yang kami tempati tepat berada di kawasan pelelangan ikan. Banyak sekali ikan laut segar dijajakan di pasarnya. Beda sekali dengan kualitas ikan di daerah tempat tinggal saya di Tangerang, kalo kata Mama saya, sudah 10 kali mati ikannya. Tapi ada rasa familier saat melihat pemandangan depan hotel. Rasa yang sama dengan kota kelahiran saya di Bitung, yang memang kota pelabuhan juga.

Saya dan anak-anak sempat berjalan-jalan sebentar melihat kapal dan pasar ikannya. Sayang gak bisa beli ikan buat bawa pulang karena rasanya pasti akan berubah kalo kelamaan diolah.

Bapak penjual ikan yang dengan senang hati ketika difoto

Saat berjalan-jalan itu, si adek mengeluhkan kepalanya yang mendadak sakit. Kami akhirnya harus kembali ke kamar hotel saat itu juga. 

Suami kembali ke hotel menjelang magrib. Selesai mandi, dia mengajak kami makan malam. Saya sudah googling dulu tempat buat makan malam kami sekalian nongkrong. Pilihan jatuh di Alun-alun Pelabuhan Ratu yang lokasinya hanya berjarak 8 menit dari hotel.

Ada banyak sekali gerobak penjaja makanan di sepanjang jalan menuju alun-alun. Mulai dari martabak manis, nasi goreng, ayam goreng, sampe penjual kripik.

Sebelum makan kami mampir di alun-alunnya. Cukup ramai dengan adanya odong-odong dan penyewaan mobil-mobilan. Ada juga pedagang mainan. Si kakak sempat meminta dibeliin mainan yang harganya murmer. Sayang gak bisa lama-lama karena mulai gerimis. Buru-buru balik ke mobil dan nyari rumah makan. 

Mobil berhenti di depan rumah makan sederhana yang entah namanya apa. Ada banyak kendaraan bermotor terparkir rapi di depannya. Yang menarik–dan yang bikin kami mau mampir– adalah hiasan lampu-lampu di bagian tengah. Cahayanya serupa kunang-kunang. Belum lagi suasana di dalamnya yang cukup cozy.

Kami memesan beberapa makanan dan minuman yang akhirnya harus dibungkus karena si adek mendadak sakit kepala lagi.

Di hotel, suami harus makan di kamar karena si adek harus tiduran. Setiap kali dia bangun kepalanya akan terasa nyeri. Saya dan si kakak memilih makan di ruang makan hotel. Hanya ada kami berdua saja.

Seusai makan, si adek sudah beristirahat. Kata suami, besok kami gak usah ke mana-mana langsung pulang aja karena melihat kondisi si adek. Saya manut. Ya gimana, namanya anak sakit masa dipaksain tetap jalan-jalan. 

Pukul 8 pagi kami sudah check out dari hotel. Niatnya agar suami bisa mengemudi santai dan gak perlu buru-buru. Tapi ternyata dia mengajak kami mampir sebentar ke Gua Lalay. Saya memang sempat menyinggung pengin ngeliat gua ini. Kebetulan banget lokasinya dekat dengan PLTU Citarik. Gak nyangka sih kalo suami bakal nyempetin mampir mengingat katanya harus cepat pulang karena si adek sakit.

Dari hasil tanya dan browsing, sakit kepala si adek adalah efek dari penyakit radangnya.

Baca: Ketika Si Kecil Terkena Radang Paru-paru

Cukup bayar 3rb/orang untuk masuk ke lokasi gua. Begitu yang tertulis di depan pagar besi yang tak terkunci. Saya bertanya ke seorang bapak yang sedang memanaskan motor di sebuah rumah, di mana saya harus membayar. Katanya ke istrinya. Ternyata merekalah pengelola tempat tersebut. 

Setelah membayar saya dipersilakan ke lokasinya yang hanya beberapa meter saja dari rumah mereka. Bau tengik sudah tercium sejak saya masuk melalui pagar. Suami dan si adek menunggu di mobil, hanya saya dan kakak saja yang masuk.

Mendekati gua baunya semakin menyengat. Si kakak sempat mengeluh. Busuk banget katanya. Tapi akhirnya dia sedikit melupakan soal bau saat melihat ratusan kelelawar yang beterbangan di dalam gua.

Yang menarik di Gua Lalay benar-benar hanya guanya saja yang dipenuhi banyak kelelawar. Selebihnya lokasi gak begitu bagus dan tak terawat. Saya dan si kakak hanya berada di dalam sekitar 10 menit lalu kembali ke mobil. 

Dalam perjalanan, suami sempat membeli labu parang dan pisang tanduk yang harganya cukup murah. Lumayan buat bikin bubur manado.

Liburan singkat di Pelabuhan Ratu akhirnya berakhir saat mobil kami berpapasan dengan anak-anak yang berdiri di sepanjang jalan tol yang membawa tulisan “Om Telolet Om”


2 thoughts on “Liburan Singkat di Palabuhan Ratu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s