Beda Anak Beda Perjuangan

Beda Anak Beda Perjuangan

Saya baru tahu kalo di awal bulan Agustus ini diperingati sebagai World Breastfeeding Week atau Pekan ASI Dunia. Bahkan bulan Agustus diperuntukkan sebagai Breastfeeding Awarness Month. Tahunya juga dari blog Mbak Ira.

Duh, terlalu sibuk sama drakor dan fangirling nih sampai saya lupa hal penting kayak gini. Ehe he.. *sungkem ke buibuk menyusui*

image

Ngomong-ngomong soal ASI, saya punya pengalaman berbeda untuk kedua anak saya.

Begini ceritanya… *pasang backsound melow*

Saya melahirkan anak pertama di awal tahun 2009. Seorang anak laki-laki yang lucu dan sehat. Anak saya menjadi cucu kedua di keluarga saya dan suami. Saya bahagia, suami bahagia, keluarga kami bahagia. Hanya saja yang membuat saya merasa bersalah adalah, saya tidak bisa memberikan ASI eksklusif untuk anak pertama saya.

Pasalnya, sebagai orangtua baru saya tidak tahu apa-apa soal mengurus anak. Walau secara alamiah naluri sebagai seorang ibu keluar saat anak sudah dalam pelukan. Jadinya saya ikut saja dengan arahan orangtua dan sekitar saya. Karena tahu apa saya soal urus anak?

Saat melahirkan dilakukan IMD, tahu apa saya soal itu?

image

Atau saat bayi saya yang baru beberapa jam dilahirkan dan langsung diberikan sufor karena ASI saya belum keluar, padahal bayi yang baru lahir bisa bertahan dengan cadangan makanan. Tahu apa saya soal itu?

image

Atau saat bayi saya mengalami growth sprut, frekuensi menyusu meningkat dan saat dilepas malah jadi rewel, nangis sejadi-jadinya. Lalu dianggap kalo air susu saya cuma sedikit makanya harus ditambah dengan sufor. Tahu apa saya soal itu?

image

Atau saat bayi saya baru berusia 4 bulan dan sudah disuruh makan karena dia sudah bisa merespon orang yang sedang makan juga. Mana MPASI-nya juga instan bukan homemade. Tahu apa saya soal itu?

image

Iya, tahu apa saya soal semua itu?

image

Saat itu saya memang tidak tahu apa-apa. Saya gagap dan bodoh. Saya terbawa dengan mereka yang saya pikir sudah berpengalaman. Ternyata malah menjauhkan saya untuk memberikan ASI eksklusif untuk bayi saya sehingga dia menjadi nyaman dengan dot dan sufor.

Rasa kecewa tentang itu baru saya rasakan saat saya mulai hamil anak kedua. Saat saya dan keluarga kecil saya pindah dari kota kelahiran saya. Saat saya sudah tak lagi mengalami intervensi dari orang lain soal mengurus anak. Saat saya mencari tahu sendiri soal bagaimana agar bayi bisa mendapatkan ASI secara eksklusif.

Tentu saja ada pemicu sampai saya mau mencari tahu lebih banyak soal ASI. Sejak menjadi bayi sufor di usia 4 bulan, anak saya sering sekali sakit. Belum lagi alergian. Sedikit-sedikit harus dibawa ke dokter. Ditambah biaya sufor yang setiap bulannya membengkak. Benar-benar bikin pusing.

image

Saya mulai mencari tahu tentang ASI eksklusif. Saya mengulik semua tentang mitos yang berhubungan dengan ASI. Saya bahkan memfollow komunitas pendukung ibu menyusui dan dokter-dokter laktasi. Ternyata apa yang saya alami pada anak pertama kebanyakan karena gagap ilmu.

Saya bersyukur dan kecewa pada saat bersamaan. Bersyukur karena saya bisa memberikan ASI eksklusif sampai anak kedua saya berusia 2 tahun. Namun kecewa karena saya gagal melakukannya di anak pertama. Tapi, selalu ada hikmah di setiap kejadian dalam hidup kita. Kalo tidak demikian mungkin saya tidak akan berapi-api untuk mendorong beberapa teman saya yang baru saja melahirkan untuk memberikan ASI eksklusif kepada anak mereka.

Sekarang anak kedua saya sudah mau 5 tahun. Tapi rasanya baru kemarin dia ada dalam pelukan saya dan menikmati air susu dari payudara saya.

image

Ah, masa-masa itu. Masa-masa yang tidak akan bisa dilupakan bagi setiap ibu menyusui. Masa-masa penuh perjuangan tapi membahagiakan. *lap-lap airmata*

Inilah sepenggal cerita saya soal ASI. Saya berharap, makin banyak ibu-ibu muda yang mau mencari ilmu soal ASI agar tidak terbawa dengan mitos. Ada banyak komunitas laktasi di luar sana, atau mungkin di sekitar. Rajin-rajinlah bertanya dan banyak membaca. Karena makanan terbaik bagi bayi kita hanya satu, ASI.

Tidak, saya tidak mengharamkan sufor. Saya juga tumbuh besar dengan sufor karena mama saya sibuk bekerja saat itu. Tapi jika kita bisa memberikan makanan terbaik kepada bayi kita melalui ASI, kenapa harus memilih sufor?

image
Salam manis dari anak sufor dan anak ASIX… dan emaknya yang narsis.

3 thoughts on “Beda Anak Beda Perjuangan

  1. hihiii… foto terakhirnya bikin ngakak sekali… lucu deh mba..
    Iya, pelajaran yang diambil dari pengalaman biasanya jauh lebih melekat dan membekas ya mba. Semangat terus mba. mau ah dikomporin juga…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s