#JakartaWalkingTour Bareng Dua Krucil

#JakartaWalkingTour Bareng Dua Krucil

Apa kabar wiken klean?

Kalo daku menghabiskan Sabtu pagi dengan ikutan #JakartaWalkingTour bareng @jktgoodguide sambil ngajak dua krucil. Ehe he…

Sebelum cerita gimana keseruannya jalan-jalan di tengah Jakarta pas matahari lagi terik banget, daku cerita dulu kronologisnya dari awal. (((Kronologis))) udah kayak kasus kriminal aje.

Setelah mendaftar di hari Kamis lewat email ke @jktgoodguide, daku memilih rute City Center 1 di hari Sabtu. Tadinya mau daftar buat rute Chinatown di hari Jumat, tapi sayang udah full. Dua krucil pas tahu kalo kita mau jalan naik kereta langsung excited. Mungkin karena kemarin kita ke Bogor dan berdua menikmati. Baca ceritanya di sini. Padahal berdua gak tahu, bakal ngapain sik diajak emaknya hari Sabtu nanti. Mereka iya iya aja karena berdua emang senang naik kereta, artinya bakal ada camilan dan bekal makanan. Padahal di rumah juga distokin. Kids!

Karena tahu mo ngajak dua krucil, daku selalu udah ngeset di kepala, apa aja yang bakal daku bawa, apa aja yang bakal dipake, dan apa aja yang mesti disiapin.

Sabtu subuh daku sudah bangun, nanak nasi, panggang roti, siapin air dalam botol, nyiapin payung, kresek buat sampah, tisu basah dan tisu wajah. Beginilah kalo bawa anak, persiapan mesti matang. Klean juga mesti tahu tips bawa anak saat naik kereta. Nanti deh daku kasih tipsnya.

image

Jam 7 daku dan dua krucil udah siap jalan karena bertemu di meeting point itu jam 9 pagi, di Museum Gajah. Ini kali kedua kami ke Museum Gajah, kali pertama ceritanya kayak gini.

image

Jam 9 kurang 20 menit, daku dan dua krucil udah nyampe di Museum Gajah. Dari Stasiun Tanahabang kita naik Grabbike yang daku baru tahu kalo lebih murah dari Gojek. Ya bayangin aja, pake Grab dari Stasiun Tanahabang ke Museum Gajah cuma 5rb, sedangkan Gojek 12rb. Ih, rugi… #perhitungan #maklumemakemak

image

image

Pas nyampe di depan Museum Gajah atau nama sebenarnya Museum Nasional, daku bingung. Di manakah rangorang yang lain? Apa daku kecepetan? Soalnya di email cuma dibilang meeting point di Museum Gajah tanpa ngasih keterangan jelas di mana. Daku tak kehabisan akal, daku buka profile Twitter @jktgoodguide dan menemukan nomor Whatsapp. Daku coba ngirim pesan buat nanya, dan dijawab.Ternyata ngumpulnya di depan Patung Gajah, di halaman depan Museum Gajah. #kebanyakangajah #gajahception

Daku kemudian bertemu dengan Chanda, yang ngejawab Whatsapp. Dia salah satu tour guide dari @jktgoodguide. Dia langsung nanyain nama, lalu ngecek ponselnya. Mungkin ngecek daku emang beneran udah daftar apa emak-emak nyasar yang bawa dua anak dan kebelet pengin ikutan secara ilegal. Ternyata nama daku beneran ada. Buktinya pas daku bilang nama daku Ana, langsung dijawab, “Oh, Anastasye ya.”

image
Dua krucil yang mukanya tegang

Pas daku ketemu Chanda, baru daku seorang. Selang tak lama beberapa orang mulai berdatangan. Dan akhirnya makin ramai. Kira-kira ada sekitaran 25-30 orang yang ikutan rute hari ini.

image

Karena grup ini cukup besar, Chanda memecah menjadi dua grup. Grup satu dengan tour guide-nya Chanda sendiri khusus menjelaskan dalam bahasa Inggris, grup kedua grup yang pake bahasa Indonesia. Soalnya ada beberapa turis asing yang juga ikutan dalam #JakartaWalkingTour ini. Kalo liat postingan di IG @jktgoodguide sih, hampir semua rute diikuti juga sama turis asing.

Daku ikut di grup kedua dengan tour guide bernama Indra yang langsung membuka #JakartaWalkingTour kami dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang sejarah Museum Gajah.

image

Museum Nasional juga dikenal sebagai Museum Gajah karena dihadiahkannya patung gajah berbahan perunggu oleh Raja Chulolangkorn dari Thailand pada tahun 1871 yang kemudian dipasang di halaman depan museum.

Dari depan patung gajah pemberian Raja Thailand, kami beranjak ke bagian depan museum yang ada instalasi seni karya I Nyoman Nuarta. Tadinya daku pikir instalasi seni ini pusaran air, ternyata terinspirasi dari lagu Pak SBY yang diberi nama “Kuyakin Sampai Di sana”. Duh, nama instalasi seni kok bikin baper. Kalo klean udah yakin sama pasangannya belum?

Usai ngejelasin, Indra lalu ngajak para peserta buat foto-foto. Abis itu lanjut ke tempat selanjutnya.

image

image
Coba liat deh, ada banyak siluet manusia di dalam instalasi seni ini.

Tak berjarak cukup jauh dari Museum Gajah, kami mampir di depan Mahkamah Konstitusi. Lalu mampir ke Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI yang juga tetanggaan.

image

image

Matahari udah sangat menyengat di hampir pukul sepuluh pagi. Anak-anak daku udah keringatan. Daku juga. Si kecil jadinya daku suruh pake payung biar bisa terlindung.

image

Kami lalu menyebrang. Jalanan Jakarta masih terbilang lengang karena masih dalam suasana lebaran. Indra mengajak kami berhenti di depan sebuah taman. Daku sedikit bingung dengan huruf-huruf yang tertata di dalam taman. Pas daku mengubah posisi berdiri barulah daku tahu apa tulisannya.

image
Ini bacanya apa ya? Insaf? Lol

image

Nama taman ini Taman Demo, dibuat sama Gubernur Jakarta yang sekarang, yaitu Pak Ahok. Diperuntukkan bagi yang pengin demo. Duh so sweet banget sik, yang pada mau demo aja dibikin taman. Kalo yang jomlo, Pak? #ehgimana

Tak jauh dari Taman Demo, berdiri tegak Monumen Nasional yang jadi ikon Kota Jakarta. Yoih, Monas. Yang dibangun di zaman Soekarno karena terinspirasi dari Menara Eiffel di Paris.

image

Daku juga baru tahu kalo Monas ini lambang alat kelamin perempuan dan laki-laki. Yang di bawah adalah kelamin perempuan dan yang nongol ke atas itu kelamin laki-laki. 💏💑

Pak Soekarno, sa aje deh.

Dari Monas kami keluar lagi. Jadi cuma masuk bentaran lewatin pagar trus keluar lagi. Menyusuri trotoar Indra berhenti sejenak di bawah rindangnya pohon gede. Di depan kami berdiri gedung berwarna putih yang juga sangat terkenal. Kantornya Presiden RI. Istana Negara. Ternyata dulunya Istana Negara itu dua lantai, tapi karena kebakaran lantai dua gak pernah direnovasi lagi.

image

Lanjut lagi perjalanan, kali ini Indra mengajak kami berhenti di depan gedung Mahkamah Agung. Lalu dia ngejelasin kalo abis ini kami bakal ngelewatin Markas Besar TNI. Kami dilarang ngambil foto gedung atau berfoto di depan gedung. Bakal ada tentara yang nodongin kami dengan senjata. Aduh… tembak kami pak, tembak. Dor! Jadilah kami semua jalan melewati Mabes TNI dengan langkah cukup cepat, padahal biasanya usai penjelasan Indra selalu heboh sama sesi foto.

Pada belokan di samping Mabes TNI kami berhenti Ragusa. Saat di meeting point, Indra emang nanya, kalo nantinya kami lewatin Ragusa mau mampir apa enggak? Semua jawab mampir.

image

Matahari makin garang, pilihan buat berteduh untuk menikmati es krim Ragusa yang terkenal itu sungguh tepat. Sekalian istirahat bentar karena kaki udah mayan pegal.

Daku duduk semeja dengan Indra. Setelah pesanan datang, Indra lalu nyeritain sejarah Ragusa ke daku.

image
Banana Split buat daku dan si kecil
image
Choc Fondue buat si kakak

Ragusa ini adalah nama keluarga Itali yang datang ke Indo. Mereka mendirikan Ragusa tahun 1930 di depan Monas, lalu pindah tempat ke tempat yang sekarang pada tahun 1932. Namun, Ragusa milih buat balik lagi ke Itali. Tadinya dia mau jual tempat es krimnya ini, tapi belum laku juga. Pas ada keluarga Tionghoa nanya kalo mereka boleh melanjutkan bisnis tempat es krim ini, Ragusa langsung ngasih aja. Dengan cuma-cuma. Makanya jangan heran kalo namanya Ragusa es krim Itali tapi yang empunya malah Tionghoa.

image

image

image

Selesai menikmati nikmatnya es krim dan rasa lelah mulai sedikit hilang. Perjalanan dilanjutkan ke Masjid Istiqlal.

image

Masjid Istiqlal ternyata dirancang oleh arsitek yang sama dengan yang ngerancang Monas. Frederich Silaban.  Frederich Silaban memenangkan sayembara pembuatan gambar maket Masjid dengan motto (sandi) “Ketuhanan” yang kemudian bertugas membuat desain Istiqlal secara keseluruhan. Istiqlal ini juga merupakan masjid terbesar di Asia dan terbesar ketiga di dunia. Karena kapasitas penampungnya bisa mencapai 220rb jiwa. Warbiyasak. 👏👏👏👏

Indra membawa kami masuk ke dalam Masjid Istiqlal. Sebelum masuk, semua harus melepas sendal/sepatu yang dipake. Daku kira bakal ditenteng terus selama di dalam, ternyata Indra mengajak kami ke sebuah ruangan penitipan sepatu. Ruangannya kecil dan lemari penyimpanan sepatunya cuma satu. Daku lihat ada banyak sekali yang datang ke masjid ini, jadi pasti gak cukup kalo semua sendal/sepatu dititipin di ruangan ini. Ternyata karena cukup kenal dengan penjaga ruangan tersebut, jadilah kami bisa nitip sendal/sepatu. Pengunjung yang lain harus nenteng sendal/sepatu sendiri. Ada beberapa remaja yang jualan kresek buat ngisi sendal/sepatu. Kami juga diberikan pakaian mirip kimono, katanya biar terlihat sopan. Yang make tentunya yang pakaiannya sedikit terbuka. Daku juga pake karena kaos daku cukup ketat.

image
Mom and daughter

Indra mengajak kami naik ke lantai dua. Dia menjelaskan tentang arsitektur dari dalam masjid. Terus terang, ini kali pertama daku masuk dalam sebuah masjid. Daku juga terkesima sama isi di dalam Masjid Istiqlal. Rasanya tenang dan damai.

Indra lalu mengajak kami ke tengah masjid. Ternyata kalo ada ibadah besar, macam Idulfitri bisa penuh sampai di luar. Salat Jumat saja bisa mencapai 16rb orang.

image

image

image

Di depan sebuah bedug kami berhenti. Daku tak begitu menyimak dengan benar penjelasan Indra karena terdistraksi sama dua krucil, khususnya si kakak yang heboh lari sana sini.

image
Bedug dari kulit lembu

Selesai menjelajah isi masjid, kami pun keluar. Indra juga berpesan untuk mengumpulkan 5-10rb/orang buat diberikan kepada penjaga ruangan penitipan sepatu. Salah seorang peserta yang mengumpulkan. Kami lalu mengambil sepatu dan mengembalikan kimono. Perjalanan kembali dilanjutkan.

image

Tak jauh dari Masjid Istiqlal ada Katedral Katolik. Pak Soekarno memang sengaja ingin mendirikan tempat ibadah yang berdekatan. Tadinya bakal ada Wihara dan Pura juga, sayang gak ada yang bisa ngurusin. Makanya cuma ada Masjid Istiqlal dan Katedral Katolik saja yang bertetanggaan.

image

image

image

image

image

Perjalanan berakhir di Katedral Katolik. Indra membagikan kartu namanya bagi kami semua. Tak lupa kami memberikan tip terserah-mau-ngasih-berapa. Udahlah perjalanannya menyenangkan, tour guide-nya baik dan ramah. Semoga sukses terus buat @jktgoodguide! Terima kasih buat ilmunya.

Sungguh, walau kaki daku rada blas dan keringat mengucur tiada henti karena panasnya Jakarta. Tapi daku sangat menikmati #JakartaWalkingTour hari ini. Kedua anak daku juga menikmati walau kelelahan. Terlihat dari keduanya yang masih semangat ngajakin daku buat naik City Tour Bus, tapi daku tolak. Cemana ini, anaknya masih semangat 45 emaknya malah udah gempor. Semoga daku bisa konsisten ngajakin anak daku buat jalan-jalan melihat dunia selain mal. Kalo ada kesempatan daku pengin ngajak dua krucil naik Bromo. Kali ada yang mau sponsorin. #lah #siapaelo?

Ya pan, siapa tahu ada yang ngasih challenge tapi dibayarin buat jalan naik gunung bawa dua anak. GUE BISA LAH! ASAL BENERAN DIBAYARIN! #gaksante #sokiye #jalankelilingtadiajangakugempor 😂😂😂

Ya udah sik, sampe sini dulu cerita daku. Nanti mo cerita pengalaman daku olahraga sambil *tetep* bawa anak. 💪💪

2 thoughts on “#JakartaWalkingTour Bareng Dua Krucil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s