Tentang Bermedia Sosial

Tentang Bermedia Sosial

Sebenarnya sudah kepikiran pengin nulis ini sejak lama. Tapi baru benar-benar kesampaian sekarang.

Semua bermula dari link yang di-share Sisbel di grup Whatsapp:

1.https://chezlorraine.wordpress.com/2014/08/28/are-you-a-sharent/

2.http://binibule.com/2015/06/16/etika-mengunggah-foto/

Kedua link di atas sangat mencerahkan, walau mungkin ada sebagian yang akan merasa tersinggung. Ya gue maklum saja. 

Kali ini gue mau bercerita soal pendapat gue pribadi.

Kira-kira setahun lalu, gue udah mulai aware untuk tidak heboh membagikan foto anak-anak ke media sosial. Yang memengaruhi gue adalah Nadya Hutagalung dan Sophie Navita. Kebetulan gue mem-follow keduanya di Instagram. Di Instagram masing-masing, ketika memposting foto anak, selalu saja tampak belakang. Tak pernah kedua public figure itu memperlihatkan wajah anak mereka. Hal itu menyadarkan gue bahwa, tindakan gue memposting foto anak terkadang berlebihan. Kalau ada yang berpikiran,

“Emangnya elo siapa? Mereka kan artis, jadi wajarlah kalo nggak mau posting foto muka anak mereka. Ngapain ikut-ikutan?”

Pada kenyataannya, ada begitu banyak public figure yang dengan hebohnya memposting foto anak-anak mereka. Sebenarnya bukan masalah, gue public figure atau bukan, tapi lebih kepada privasi anak gue sendiri. 

Tidakkah terpikir kalau setiap postingan kita sebagai orangtua yang mengabadikan semua momen sang anak itu berlebihan? Tidakkah terpikir apa yang akan dia rasakan di kemudian hari saat mendapati foto-foto di masa lalunya?

Lalu gue mendapat tamparan lain dari serial crime scene (gue lupa serial apa) yang gue tonton. Bercerita tentang penjahat dunia maya yang mengejar anak-anak belia karena foto-foto/akun mereka di media sosial. Hal itu cukup menakutkan, bayangkan kalau terjadi pada anak-anak kita sendiri? Siapa yang harus disalahkan? Penjahat itu pasti. Tapi karena siapa sampai anak kita diincar? Tentu saja karena kita sendiri.

Reaksi yang akan muncul mungkin kayak gini, 

“Ah, itu kan cuma serial di televisi, jangan terlalu lebay deh.”

Kebanyakan orang-orang menganggap remeh dunia maya, berpikir tak akan ada hal buruk yang terjadi kalau kita memposting sesuatu di dunia maya. 

Siapa bilang? 

Banyak kasus orang di penjara hanya karena status yang ditulis di media sosial. Padahal maksud status itu privasi tapi tetap saja dijerat pasal UU ITE. Pernah terpikir kenapa begitu banyak penipuan juga di dunia maya? Karena ada begitu banyak orang yang mudah sekali ditipu hanya berbekal foto atau kata-kata manis belaka.

Karena kita tak pernah tahu batasan apa saja yang pantas dan tidak pantas dibagikan di media sosial. 

Tak ada batasan sama sekali. Semua orang dibebaskan untuk membagikan apa saja yang mereka lakukan. Mulai dari kegiatan sehari-hari, makan, minum, belanja, apa saja. Bahkan sampai hal-hal buruk (menurut gue), seperti membagikan foto orang lain tanpa sepengetahuannya dan menjadi bahan olokan (atau bahasa kerennya dijadiin meme). Sampai pada foto orang kecelakaan atau meninggal yang sudah menjadi mayat. 

Apa sih yang ada di kepala orang-orang saat membagikan foto mayat itu? Pernah terpikir kalau keluarga sendiri yang menjadi korban lalu orang lain seenaknya membagikan foto korban di media sosial? Gue sih gak terima. Kehilangan saja sudah sangat menyakitkan apalagi kalau foto mereka sudah menjadi mayat dibagikan di sana sini tanpa permisi.

Kalau kalian adalah teman di Path, pembaca blog saya atau follower di Twitter, kalian akan jarang sekali membaca gue bercerita soal anak-anak atau kehidupan rumah tangga gue di sana. Hampir tidak pernah malah. Kecuali Facebook yang masih menjadi tempat untuk membagikan foto anak, itu pun masih dalam porsi wajar. Gue lebih memilih membahas serial favorit, atau hal-hal random yang ada di kepala.

Gue gak bermaksud menggurui ataupun mengatakan kalau gue lebih baik daripada orang lain. Tidak, gue juga masih banyak belajar. Salah satunya belajar untuk tidak berlebihan di media sosial.

Bagi gue media sosial itu tak lebih dari tempat bermain semata. Bukan tempat untuk menuangkan semua hal tentang diri kita.

Berilah privasi sedikit untuk diri, anak-anak dan keluarga kita.

12 thoughts on “Tentang Bermedia Sosial

  1. Pernah saya upload video yang soal stalker dr hasil sosial media Mbak. Memang harus hati2. Kmrn saya sempat upload alamat lengkap. Hikss. Diingatkan Mbak Eva. Tapi hapus postingan juga sbnrnya masih bs ke retrieve kan. Hiks.

    Like

  2. dan mih ketika gue sharing link tentang Sharing di sosial media, malah gue di nyinyirin sama user sosmed yang-kebetulan-tiap menit-upload-foto-anaknya “Ahhhh..ini karena lo belom punya anak aja, ntar kalo udah punya anak pasti gak tahan pajang-pajang foto anak.” πŸ˜€

    Like

  3. Terima kasih mention ke artikel saya Anastasye. Salam kenal. Sayangnya ada orang tua yang kurang menghargai privacy anak ya padahal risiko oversharing itu besar dan bahaya mengintai juga, ini tanpa kita sebagai orang tua berlaku paranoid ya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s