Review Novel Fantasy

Review Novel Fantasy

Akhirnya gue perdana mau nulis review tentang buku yang gue baca. Sebelum-sebelumnya sih karena gue emang nggak bisa ngereview aja. Hahaha…

Sekarang mau nyoba ngereview karena ngerasa “berutang” sama sang penulis. Semoga nggak malu-maluin ya.

Yak, mari kita mulai…

Buku yang beruntung itu berjudul Fantasy. Penulisnya Novellina Apsari. Genrenya metropop, terbitan GPU.

Gue dapat buku ini karena menang giveaway yang diadakan sama @NBC_IPB kerjasama dengan si empunya buku ini sendiri @novellinaapsari.

Sebenarnya, belakangan minat baca gue lagi terjun bebas. Satu buku aja kalo mood bagus bisa selesai beberapa hari. Kalo mood eneg ya bisa berbulan-bulan. Belum lagi ada banyak tumpukan buku yang gue beli dan belum dibaca. *tiup-tiup debu di rak buku* Ya gimana ya, dua krucil gue sedang dalam fase aktif. Jadinya waktu gue tersita banyak dengan ngurusin mereka berdua. Derita emak-emak rumahan ya begini, ngurus rumah, suami dan anak tanpa henti. Rasanya 24 jam itu nggak cukup. Loh, kok bablas curhat?

Oke, back to main topic here

Saat baca judulnya Fantasy, gue berasumsi kalo ini buku bergenre fantasi. Kisah tentang dunia mimpi atau peri atau semacamnya. Ternyata gue salah. Fantasy ini berisi impian dan cinta segitiga antara Davina, Armitha dan Awang.

Cerita dibuka dengan kisah seorang perempuan yang datang ke Jepang untuk mencari seorang laki-laki. Bermodalkan postcard yang dia terima tujuh tahun lalu. Lalu kisah mundur ke tahun 2005, di Surabaya, saat ketiga tokoh masih SMA. Dikisahkan kalo Awang meminta Vina untuk mengenalkannya kepada Mitha, teman sebangku Vina. Awang penasaran dengan Mitha, yang dirasanya berbeda dengan cewek-cewek lainnya. Judes. Awang ingin memecahkan misteri dibalik sikap Mitha itu. Setelah perkenalan yang terjadi secara random itu, Vina menjadi akrab dengan Awang.

Suatu hari, saat Vina di perpustakaan dia mengetahui hal lain tentang Awang. Sebuah piano tua yang jarang dipakai berdenting. Vina kaget, ternyata Awang yang sedang memainkan piano dengan komposisi yang menyayat hati. Dari situ, Vina menjadi sangat kagum dengan Awang.

Vina lalu cerita ke Mitha, yang disambut heran sama sahabatnya itu. Karena selama Awang ke rumah, dia nggak pernah pamer. Padahal di rumah Mitha ada piano juga. Mitha malah menangkap kesan kalo Vina suka sama Awang. Well, Mitha sih selalu bilang kalo dia cuma anggap Awang kakak aja. Jadi dia kayaknya nggak keberatan kalo Vina suka. Tapi ya namanya teman ya, nggak mungkin nusuk dari belakang. Makanya Vina milih buat jaga jarak setiap kali ada Awang.

Namun, suatu hari saat Vina mencari Mitha di kelas. Temannya itu nggak ada. Vina menemukan Mitha di perpustakaan, sedang main piano bareng Awang. Perasaan cemburu langsung mendera Vina. Kemudian twist cerita berubah. Awang nyatain cinta ke Vina pada saat mengantarnya pulang usai pingsan di sekolah.

Di bagian berikutnya diceritakan kalo Awang dan Vina udah jadian, Awang ngajak Vina nonton orkestra. Di sana mereka bertemu dengan teman-teman Awang dan juga Mitha. Vina heran, sejak kapan Mitha menaruh minat pada musik klasik. Bahkan sampai kenal dengan pemain piano, yang menjadi bintang utama di orkestra itu. Ternyata Papa Mitha cukup akrab dengan Valenntina dan suaminya.

Setelah menonton orkestra itu, Awang dan Mitha termotivasi. Keduanya memutuskan untuk ikut sekolah musik milik Valenntina. Bahkan Awang mengambil langkah berani dengan pindah ke Jepang walau belum lulus SMA. Tapi sebelum pergi, Vina malah memutuskan Awang. Kisah berlanjut dengan cerita Awang yang sudah menjadi pianis terkenal, Vina yang sudah menjadi reporter majalah ternama dan Mitha yang lumpuh akibat kecelakaan dan akhirnya membenci Vina.

First impression:
Gue biasanya kalo mulai baca dan deskripsinya terasa bertele-tele, biasanya langsung saya tutup bukunya. Tapi pas baca novel ini, gue malah nggak bisa berhenti dan bisa ngelarin dalam beberapa jam saja.

POV:
POV yang dipakai adalah POV 1 dengan dua sudut pandang. Dari Davina dan Armitha.

Penokohan:
Buat gue tokoh Davina rada berlebihan Blasteran yang introvert, pintar, dan cantik. Anehnya nggak banyak cowok yang naksir. Helloww… di sekolah gue dulu, rada bule dikit cowok yang minta kenalan bejibun. Trus Armitha, katanya judes dan juga cantik. Tapi yang deketin cuma Awang doang. Itu sekolah cewek-ceweknya yang kek gimana sih? Model-model Victoria Secret?

Kalo Awang gue bisa maklum. Cowok usil bertampang pas-pasan tapi bisa bikin nih dua cewek jatuh cinta. Karena cowok emang nggak perlu tampang keren, cukup karisma aja udah bisa bikin cewek klepek-klepek.

Setting:
Setting yang dipilih Jepang, Surabaya, Wina, dan Paris. Gue suka penggambaran di Wina dan Paris yang jelas banget.

Ending:

Happy ending
sih. Setelah berjuang dengan perasaannya dan Mitha, Vina akhirnya bisa jadian lagi dengan Awang. Mitha juga udah memaafkannya.

Buku ini keren sih, romansanya kuat trus pengetahuan soal musik klasiknya juga kece.

Gue kasih empat bintang untuk buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s