Penerbit dan PHP

Penerbit dan PHP

Apa hubungannya penerbit sama php?
Oh, sangat berhubungan.

Dulu saya kira, php itu hanya dilakukan sama seorang cowok ke cewek atau sebaliknya atau skill utama @danissyamra. Ternyata sebuah penerbit juga bisa php.

Mari saya kisahkan bagaimana kronologisnya… *siapin camilan*

Bermula dari draf fantasi yang awalnya saya terbitkan secara self publishing. Iseng saya coba kirim ke beberapa penerbit. Yang nolak sih cuma satu penerbit, sisanya nggak ngerespon. Nyesek… iyalah. Hahahahaha… *nunjuk dada* *dada om ganteng beravatar tepi pantai*

Saya sebenarnya sadar diri dengan kualitas tulisan saya. Itu kali pertama saya nulis novel, jadinya masih banyak typo dan penistaan EYD di mana-mana. Apalagi saya nulis tanpa outline sama sekali. Cukup nulis sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Jadi wajarlah kalo ditolak.

Pas udah putus asa. Ternyata eh ternyata… saya mendapat balasan surel dari sebuah penerbit. Mereka tertarik dengan naskah saya dan mau menerbitkannya.
Saya didera antusias dan rasa bangga. Gila ya, ternyata ada juga penerbit mayor yang mau menerbitkan tulisan saya menjadi buku. *nangis pelangi*
Tapi sebelumnya saya diminta menyelesaikan dulu naskah saya yang dirasa masih nanggung. Dalam waktu dua minggu saya ngebut kelarin draf saya itu.

Surat perjanjian pun dikirim. Isinya kesepakatan antara saya dan penerbit. Sebagai awam dalam hal ini, saya pikir semua MoU itu sama saja dari tiap penerbit. Tanpa pikir panjang, saya menandatangani dan mengirim balik MoU tersebut. Inilah kesalahan fatal saya. Seharusnya saya diskusi dulu dengan teman-teman penulis lain (yang sudah senior) dan minta tanggapan mereka soal surat perjanjian saya itu. Berbekal rasa excited karena akan memiliki novel perdana, saya abaikan logika itu.

Emangnya bakal terjadi apa sih?

Naskah saya yang semula dipajang di salah satu self publisher saya tarik. Ucapan selamat saya terima dari teman-teman saya. Suatu kebanggaan yang membuat hati saya berbunga-bunga.

… sayangnya hal itu nggak berlangsung lama.

Bulan demi bulan berlalu, tak ada kabar dari pihak penerbit tentang progress naskah saya di tangan mereka.

Sama seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan nasib anaknya, tentu saja saya juga peduli dengan nasib draf saya.

Udah banyak cara yang saya lakuin. Pertama, saya mencoba bertanya kepada seorang teman yang kebetulan bukunya terbit juga di penerbit itu. Teman saya ini juga cukup akrab dengan pemilik penerbit. Katanya, naskah dia dulu nanti 9 bulan baru terbit. Sabar aja.

Saya akhirnya menambah pasokan stok sabar saya. Harap maklum lah, saya penulis pemula dan naskahnya diterima itu pasti nggak sabar kalo bukunya segera terbit.

9 bulan berlalu. Berganti menjadi tahun. Kabar itu tak kunjung datang. Sekadar surel untuk mengabarkan basa basi pun tidak.

Perjuangan kedua, saya memutuskan untuk mengirimi surel langsung kepada pemiliknya. Dan jawabannya…

“Saya tahu naskah kamu itu. Tapi belum akan terbit.”

Ok. Mungkin mereka menunggu momen pas ada naskah fantasi lainnya diterbitkan biar barengan. Sayangnya tidak. Naskah pemenang lomba fikfan yang belum lama diadakan penerbit itu saja sudah diterbitkan daripada naskah saya. Hmm…

Tak habis akal, saya mengambil langkah untuk coba ikut kegiatan “kampus-kampus” penerbit itu. Eh, dibaca sama bosnya aja enggak dong. HAHAHAHANJIRHAHAHA!

Teman-teman saya malah menjadikan becandaan soal naskah saya ini. Saya sih hanya ketawa ketiwi. Abis bully mereka kreatif banget. *sundut satu-satu*
Mereka menyarankan saya untuk tarik naskah. Saya sih maunya begitu. Tapi pas baca MoU, saya kalah telak. Saya nggak bisa berbuat apa-apa. Ini juga hasil nanya ke dua teman saya yang kuliah hukum.

Kemarin saya nyoba langkah terakhir. Kembali mengirim surel ke pihak penerbit itu. Dan sudah seminggu nggak ada balasan sama sekali.

Oh, dan hal ini ternyata nggak cuma terjadi sama saya. Salah satu teman saya yang naskahnya juga diterima di penerbit itu, mengalami nasib yang sama dengan saya. Saya tak tahu, ada berapa penulis yang jadi korban. Apa cuma saya dan teman saya, atau masih ada lagi yang lain.
Yang bisa saya lakukan sekarang ya, nggak usah ngarep atau berpikir kapan naskah saya bakal terbit. Itu sia-sia belaka.

Mungkin beberapa hal ini bisa membantu yang lain agar jangan terkena php akut kayak saya.
1. Berhati-hati dalam membaca isi surat perjanjian. Jangan sampai isinya malah merugikan kita sebagai penulis.
2. Mintalah saran atau petunjuk dari penulis senior, yang udah banyak nerbitin buku. Tanya bagaimana isi surat perjanjian yang baik.
3. Pastiin track record penerbit itu. Ngadain banyak lomba menulis belum tentu penerbit yang berkualitas juga. Banyak kok penerbit lain yang masih masuk akal.
4. Stay health dan siapin diri kalo misalnya kena juga. Karena pasti bakal terima bully dari teman terdekat. Wesbiyasaaaa…

Sekian curcol saya kali ini, tanpa maksud mendiskreditkan salah satu penerbit.

19 thoughts on “Penerbit dan PHP

  1. Ikut prihatin ya mbak. Saya malah kepingin punya tulisan kek novel tapi gak pernah bisa konsisten 🙂

    Salam kenal aja deh ya mbak dari kangaid.net

    Like

  2. Wah, memang ada poin apa di MoU itu yang membuat nggak berkutik? Memang harus hati-hati, banyak penerbit yang cuma menganggap penulis sebagai sapi perahan dan naskah cuma sebagai komoditas, nggak sadar adanya ikatan batin mendalam antara penulis dengan karyanya 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s